Review Anime Arifureta: From Commonplace to World’s Strongest. Arifureta: From Commonplace to World’s Strongest tetap menjadi salah satu anime isekai paling kontroversial sekaligus adiktif hingga akhir Januari 2026 ini. Cerita mengikuti Hajime Nagumo, siswa SMA biasa yang bersama sekelasnya dipanggil ke dunia fantasi sebagai pahlawan untuk melawan iblis. Namun, Hajime tidak mendapat kemampuan cheat seperti teman-temannya; ia hanya punya skill transmutasi yang dianggap lemah. Saat kelompoknya dikhianati dan ditinggalkan di labirin bawah tanah, Hajime jatuh ke jurang terdalam, kehilangan lengan dan mata, serta hampir mati karena kelaparan dan luka. Di titik terendah itu, ia memakan daging monster untuk bertahan, memicu evolusi tubuhnya menjadi setengah monster dengan kekuatan luar biasa. Dengan tekad balas dendam dan keinginan pulang ke Bumi, Hajime mulai membangun senjata modern menggunakan transmutasi, mengumpulkan harem setia, dan menjadi monster terkuat di dunia itu. Premis revenge-driven isekai ini langsung memikat karena menggabungkan elemen betrayal, power progression ekstrem, dan sikap anti-hero yang dingin. Di 2026, seri ini masih dibicarakan berkat season ketiga yang tayang 2024, season keempat yang sudah dikonfirmasi resmi untuk tayang musim panas 2026, serta light novel yang mendekati akhir. BERITA BASKET
Plot dan Struktur Cerita: Review Anime Arifureta: From Commonplace to World’s Strongest
Alur cerita berjalan dengan tempo cepat dan penuh kepuasan revenge. Season pertama fokus pada transformasi Hajime di labirin: dari manusia lemah menjadi cyborg monster dengan senjata api modern, ledakan, dan railgun buatan sendiri. Ia keluar dari jurang dengan kekuatan overpower, bertemu Yue—vampir berusia ratusan tahun yang menjadi partner utamanya—dan mulai membalas dendam pada teman sekelas yang mengkhianatinya. Season kedua memperluas ke petualangan di permukaan: menaklukkan dungeon lain, mengumpulkan anggota harem seperti Shea (kelinci beastman), Tio (naga), dan Kaori (teman masa kecil yang akhirnya bergabung), serta konflik dengan kerajaan manusia dan gereja yang korup. Season ketiga menyoroti perang besar melawan iblis, invasi ke dunia lain, dan pertarungan melawan pahlawan lain yang sombong. Yang membuat plot menonjol adalah progresi kekuatan Hajime yang brutal dan realistis—ia tidak ragu membunuh, menggunakan taktik kotor, dan memanfaatkan teknologi modern di dunia sihir. Pacing sangat agresif di aksi, meski kadang terasa repetitif dengan formula “Hajime menang mudah, musuh kaget”. Cliffhanger rutin dan pengungkapan bertahap tentang rahasia dunia membuat cerita tetap engaging, terutama menjelang season keempat yang akan membahas arc akhir besar.
Karakter Utama dan Pendukung: Review Anime Arifureta: From Commonplace to World’s Strongest
Hajime Nagumo adalah protagonis anti-hero yang paling ikonik di isekai revenge. Awalnya ia pemuda biasa yang ramah, tapi setelah pengkhianatan, ia menjadi dingin, sinis, dan tak kenal ampun terhadap musuh. Ia tetap punya sisi protektif terhadap orang-orang yang ia anggap penting, menciptakan kontras menarik. Perkembangannya terasa organik—dari korban menjadi penguasa yang ditakuti, tapi tetap mempertahankan rasa kemanusiaan melalui hubungan dengan harem-nya. Yue sebagai waifu utama punya chemistry kuat dengan Hajime: dingin tapi penuh kasih, dengan backstory tragis yang menambah kedalaman. Anggota harem lain seperti Shea yang ceria, Tio yang masokis, Kaori yang setia, dan Myu yang imut menambah dinamika keluarga yang hangat di tengah dunia kejam. Rival seperti teman sekelas yang mengkhianati atau pahlawan lain punya motivasi cukup untuk membuat konfrontasi terasa pribadi. Interaksi antar karakter sering diselingi humor dari reaksi berlebihan harem atau sarkasme Hajime, sementara momen emosional muncul saat ia melindungi kelompoknya. Kekuatan utama di sini adalah loyalitas mutlak harem terhadap Hajime, yang dibangun melalui kepercayaan dan kekuatan nyata.
Seni dan Visual
Seni Arifureta mengalami peningkatan signifikan sejak season pertama yang dikritik karena kualitas rendah. Season kedua dan ketiga menunjukkan animasi lebih halus, efek sihir mencolok, dan pertarungan yang dinamis. Desain Hajime setelah transformasi sangat ikonik: mata merah satu, lengan mekanik, serta ekspresi dingin yang mengintimidasi. Yue punya desain vampir klasik yang elegan, sementara harem lain punya variasi menarik yang mencerminkan ras mereka. Animasi aksi memuaskan, terutama saat Hajime melepaskan railgun atau ledakan besar, dengan impact frame dan efek cahaya yang kuat. Latar belakang labirin gelap, kota fantasi, dan medan perang dibuat atmosferik dengan pencahayaan dramatis. Adegan komedi ditangani dengan ekspresi over-the-top, sementara momen serius memiliki nuansa gelap yang mendukung tone revenge. Secara keseluruhan, visual season terbaru jauh lebih baik dan membuat pertarungan terasa epik, meski season awal tetap menjadi titik lemah bagi sebagian penonton.
Kesimpulan
Arifureta: From Commonplace to World’s Strongest adalah anime isekai revenge yang sangat memuaskan bagi penggemar power progression brutal, anti-hero dingin, dan harem loyal. Kekuatannya terletak pada transformasi Hajime yang memuaskan, aksi overpower dengan senjata modern, serta dinamika kelompok yang hangat di tengah dunia kejam. Meski ada kekurangan seperti animasi season pertama yang lemah, pacing kadang terburu-buru, dan trope harem yang standar, keseluruhan seri tetap adiktif dan salah satu yang paling gratifying di genrenya. Di 2026, dengan season keempat yang sudah dikonfirmasi dan cerita light novel mendekati klimaks, sekarang adalah waktu tepat untuk binge ulang atau menunggu kelanjutan. Bagi yang suka isekai dengan betrayal, balas dendam tanpa ampun, dan MC yang mendominasi setelah jatuh ke titik terendah, Arifureta menawarkan pengalaman penuh kepuasan yang sulit dilupakan—salah satu seri isekai revenge terbaik yang terus berkembang.