Record of Ragnarok: Konsep Epik, Eksekusi Kaku?

Record of Ragnarok Premis dasar dari Record of Ragnarok adalah impian basah setiap penggemar genre aksi pertarungan (battle manga). Apa yang terjadi jika para dewa dari berbagai mitologi (Yunani, Nordik, Hindu, dll.) memutuskan untuk memusnahkan umat manusia, namun diberi tantangan terakhir melalui sebuah turnamen “Ragnarok”? Tiga belas dewa terkuat melawan tiga belas manusia terhebat sepanjang sejarah dalam duel kematian satu lawan satu.

Konsep “All-Star Battle” ini membuat manganya meledak di pasaran. Pembaca disuguhi fantasi liar seperti Bapak Umat Manusia (Adam) meninju wajah Zeus, atau pembunuh berantai Jack the Ripper melawan Hercules. Namun, ketika Netflix mengumumkan adaptasi animenya, antusiasme berubah menjadi kecemasan, dan akhirnya menjadi perdebatan sengit. Apakah anime Record of Ragnarok berhasil menghidupkan panel-panel manga yang dinamis itu, atau justru mencederainya dengan kualitas produksi yang medioker? Jawabannya terletak di antara keduanya: sebuah pertunjukan dengan ide yang brilian, namun tertatih-tatih dalam eksekusi visual.

Kontroversi “PowerPoint Bergerak”

Gajah di pelupuk mata yang harus dibahas pertama kali adalah kualitas animasinya. Musim pertama yang digarap oleh Studio Graphinica menuai kritik pedas dari komunitas anime global. Banyak adegan pertarungan krusial yang terasa statis. Alih-alih melihat koreografi pertarungan yang cair, penonton sering kali disuguhi serangkaian gambar diam (still frames) yang digeser (panning) atau diperbesar (zooming) dengan efek suara ledakan.

Julukan kejam “Presentasi PowerPoint” sempat melekat pada anime ini, terutama pada pertarungan klimaks antara Adam melawan Zeus. Padahal, di manga, pertarungan ini digambarkan dengan kecepatan dan dampak yang luar biasa. Di anime, intensitas itu hilang karena kurangnya in-between frames. Memasuki musim kedua, ada sedikit perbaikan visual. Penggunaan CGI (Computer-Generated Imagery) lebih halus, namun tetap saja, jika dibandingkan dengan standar anime aksi modern seperti Demon Slayer atau Jujutsu Kaisen, Record of Ragnarok terasa tertinggal satu dekade. Animasi yang kaku ini sering kali memutus imersi penonton yang sedang mencoba menikmati ketegangan duel.

Kekuatan Karakter dan Interpretasi Ulang Sejarah

Jika visual adalah kelemahannya, maka penokohan dan narasi adalah penyelamatnya. Record of Ragnarok bersinar terang dalam hal interpretasi karakter. Serial ini tidak sekadar mengambil tokoh sejarah/mitologi mentah-mentah, tetapi memberikan sentuhan unik (twist) yang menarik.

Contoh terbaik adalah Adam. Alih-alih digambarkan sebagai pendosa yang terusir dari surga, ia digambarkan sebagai ayah yang sangat mencintai anak-anaknya (seluruh umat manusia) dan bertarung melawan dewa bukan karena kebencian, melainkan karena tanggung jawab seorang ayah. Atau Jack the Ripper, yang diubah menjadi sosok gentleman bengis dengan filosofi yang kompleks tentang “warna” emosi manusia. Pertarungannya melawan Hercules di musim kedua dianggap sebagai puncak penceritaan seri ini sejauh ini, di mana batas antara “baik” (dewa) dan “jahat” (manusia) dikaburkan dengan indah. Backstory atau kilas balik yang disisipkan di tengah pertarungan—meski terkadang mengganggu tempo—berhasil membuat penonton berinvestasi secara emosional pada karakter yang baru saja mereka kenal.

Sistem Volund: Menyeimbangkan Kekuatan Record of Ragnarok

Salah satu aspek cerdas dari seri ini adalah konsep “Volund”. Penulis sadar bahwa manusia biasa tidak mungkin melukai dewa. Oleh karena itu, diperkenalkanlah Valkyrie yang bisa berubah menjadi senjata suci yang menyatu dengan jiwa penggunanya.

Konsep ini tidak hanya menutup celah kekuatan (power gap), tetapi juga menambah lapisan drama. Jika manusia kalah, Valkyrie yang menjadi senjatanya pun ikut musnah. Taruhannya menjadi ganda. Interaksi antara Brunhilde (Valkyrie tertua dan inisiator Ragnarok) dengan para petarung memberikan dinamika yang menarik. Suara Miyuki Sawashiro yang mengisi karakter Brunhilde patut diacungi jempol; ia mampu beralih dari nada anggun, manipulatif, hingga histeris vulgar dengan sangat mulus, menjadi jangkar emosional bagi penonton.

Audio yang Menghentak

Meskipun visualnya mengecewakan, departemen audio Record of Ragnarok bekerja sangat keras untuk menutupi kekurangan tersebut. Musik latar yang digubah oleh Yasuharu Takanashi (yang juga menggarap musik Naruto dan Fairy Tail) sangatlah megah. (berita sepakbola)

Penggunaan musik heavy metal dan orchestral rock sangat cocok dengan tema pertarungan brutal antara dewa dan manusia. Efek suara (sound effects) hantaman palu Thor atau tombak Lu Bu terdengar berat dan memuaskan di telinga. Lagu pembuka “Kamigami” dari Maximum The Hormone di musim pertama juga sukses membangun hype dengan energi yang meledak-ledak. Bisa dibilang, anime ini lebih enak didengar daripada dilihat.

Hype vs Realita

Anime Record of Ragnarok adalah studi kasus tentang bagaimana “konten” bisa mengalahkan “kemasan”. Meskipun animasinya pas-pasan, anime ini tetap menduduki peringkat atas di Netflix di berbagai negara. Mengapa? Karena penonton haus akan konsep tournament arc yang lurus (straightforward) dan maskulin.

Tidak ada politik rumit, tidak ada drama percintaan menye-menye; hanya dua entitas kuat yang saling pukul sampai salah satu musnah. Ini adalah hiburan “popcorn” murni. Penonton datang untuk melihat siapa yang menang: Siwa atau Raiden Tameemon? Buddha atau Zerofuku? Rasa penasaran inilah yang membuat penonton tetap menekan tombol “Next Episode” meskipun mata mereka mungkin sedikit terganggu oleh kualitas gambar yang kaku.

Kesimpulan Record of Ragnarok

Record of Ragnarok adalah adaptasi yang hit-and-miss. Sebagai sebuah anime aksi, ia gagal memenuhi standar visual industri saat ini. Namun, sebagai media penyampai cerita epik tentang perlawanan manusia terhadap takdir kepunahan, ia tetap memiliki daya pikat yang kuat.

Bagi mereka yang mengutamakan kualitas animasi sakuga yang cair, anime ini mungkin akan membuat frustrasi. Sangat disarankan untuk membaca manganya demi pengalaman visual terbaik. Namun, jika Anda hanya mencari tontonan seru dengan karakter-karakter over-the-top dan dialog-dialog jantan yang penuh semangat, Record of Ragnarok masih layak masuk dalam daftar tontonan akhir pekan Anda. Matikan logika, nikmati hype-nya.

review anime lainnya ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *