Spriggan Netflix Bagi penggemar manga lawas era 90-an, nama Spriggan memiliki tempat tersendiri yang sakral. Karya Hiroshi Takashige dan Ryōji Minagawa ini adalah definisi dari aksi sci-fi militer yang “jantan”, memadukan teori konspirasi arkeologi dengan teknologi futuristik. Setelah sempat diadaptasi menjadi film layar lebar yang ikonik pada tahun 1998, Spriggan kembali bangkit dari tidurnya lewat serial ONA (Original Net Animation) di Netflix.
Digarap oleh David Production—studio di balik kesuksesan JoJo’s Bizarre Adventure dan Fire Force—anime ini membawa beban nostalgia yang berat. Tantangannya adalah bagaimana menerjemahkan sensibilitas aksi tahun 90-an yang “kasar” dan over-the-top ke dalam estetika anime modern yang lebih bersih. Hasilnya adalah sebuah surat cinta bagi genre aksi klasik: ledakan besar, adu jotos kecepatan tinggi, dan teknologi kuno yang bisa menghancurkan dunia, semuanya dikemas dalam visual yang memanjakan mata meski tidak lepas dari perdebatan teknis.
Premis: Indiana Jones Bertemu Metal Gear Solid
Inti cerita Spriggan berputar pada organisasi rahasia bernama ARCAM. Tugas mereka adalah menyegel dan melindungi artefak kuno berkekuatan super yang disebut “OOPArts” (Out-of-Place Artifacts) peninggalan peradaban masa lalu yang jauh lebih canggih dari manusia modern. Pesan dari masa lalu itu jelas: “Lindungi warisan kami dari penjahat.”
Di sinilah peran Yu Ominae, seorang siswa SMA yang juga merupakan agen elite Spriggan kelas S. Dilengkapi dengan Armored Muscle Suit (baju zirah yang meningkatkan kekuatan fisik) yang terbuat dari Orichalcum, Yu berkeliling dunia untuk mencegah negara-negara adidaya (seperti AS, Rusia, dan organisasi neo-Nazi) menyalahgunakan artefak tersebut. Premis ini terasa seperti perpaduan antara petualangan Indiana Jones dengan intrik militer ala Metal Gear Solid. Meskipun terdengar klise untuk standar hari ini, eksekusi narasinya yang to-the-point dan penuh aksi justru menjadi daya tarik utamanya. Tidak ada drama bertele-tele; yang ada hanya misi, musuh, dan penyelesaian.
Hibrida 2D dan 3D: Eksperimen David Production
Aspek visual adalah poin diskusi terbesar dalam adaptasi ini. David Production memilih pendekatan hibrida, menggabungkan animasi tradisional 2D untuk karakter dan ekspresi wajah, dengan CGI (3D) untuk Armored Muscle Suit, kendaraan, dan monster/artefak kuno.
Keputusan ini menuai reaksi beragam. Di satu sisi, penggunaan CGI memungkinkan pergerakan baju zirah Yu terlihat sangat detail, berat, dan mekanikal—sesuatu yang sangat sulit digambar tangan secara konsisten dalam adegan cepat. Namun, di sisi lain, transisi antara 2D dan 3D terkadang terasa “janky” (kaku) dan kurang menyatu, membuat beberapa adegan terlihat seperti potongan cutscene video gim. Meski demikian, harus diakui bahwa koreografi aksinya sangatlah top-tier. Pertarungan tangan kosong (Close Quarters Combat/CQC) digambarkan dengan fluiditas yang memuaskan. Hantaman pukulan Yu terasa memiliki bobot, dan efek ledakan serta kehancuran lingkungan digarap dengan sangat serius.
Struktur Episodik: Kelebihan dan Kekurangan Spriggan Netflix
Serial ini terdiri dari 6 episode berdurasi panjang (sekitar 45 menit per episode), yang masing-masing mengadaptasi satu arc cerita besar dari manganya (seperti The Crystal Skull, Noah’s Ark, hingga The Berserker). Format ini menjadikan Spriggan terasa seperti kumpulan film pendek atau antologi misi.
Kelebihannya, penonton langsung disuguhi klimaks di setiap episodenya. Tidak ada filler. Setiap episode membawa lokasi baru (dari hutan belantara, reruntuhan kuil, hingga pangkalan militer di kutub) dan artefak baru yang menarik. Namun, kekurangannya adalah pengembangan karakter sampingan terasa minim. Karakter seperti Jean Jacquemonde atau Yoshino Somei hadir dan pergi begitu cepat sehingga penonton sulit membangun ikatan emosional yang dalam dengan mereka. Fokus cerita hampir sepenuhnya tertuju pada kehebatan Yu Ominae.
Audio: Suara Kehancuran yang Renyah
Desain suara (sound design) di Spriggan layak mendapatkan apresiasi tinggi. Bunyi desingan peluru, deru mesin baju zirah yang aktif, hingga suara supranatural dari artefak kuno terdengar sangat tajam dan “renyah”, terutama jika ditonton menggunakan sistem suara surround atau headphone berkualitas. (berita sepakbola)
Chiaki Kobayashi yang mengisi suara Yu Ominae berhasil memberikan nuansa remaja yang santai namun mematikan. Ia mampu menyeimbangkan dua sisi kehidupan Yu: siswa SMA yang malas dan ingin hidup normal, serta mesin pembunuh profesional yang sinis terhadap keserakahan manusia. Musik latarnya juga kental dengan nuansa elektronik dan synthwave yang modern namun tetap menghormati akar 90-annya.
Nostalgia Aksi Tanpa Kompromi
Apa yang membuat Spriggan menonjol di era anime modern adalah ketiadaan elemen “moe” atau fan-service berlebihan yang sering menjangkiti anime aksi saat ini. Spriggan adalah aksi murni. Ia tidak mencoba menjadi lucu atau imut. Ia brutal, serius, dan maskulin.
Dialog-dialognya penuh dengan jargon militer dan pseudosejarah yang disampaikan dengan wajah serius, ciri khas anime seinen klasik. Bagi penonton lama, ini adalah nostalgia yang menyenangkan. Bagi penonton baru, ini mungkin terasa sedikit “edgy” atau berlebihan, namun itulah pesonanya. Ia tidak malu dengan identitasnya sebagai cerita aksi fantasi konspirasi.
Kesimpulan Spriggan Netflix
Spriggan (2022) adalah remake yang solid dan menghibur. Meskipun terganjal oleh beberapa masalah inkonsistensi visual akibat penggunaan CGI, ia menebusnya dengan tempo cerita yang cepat, aksi yang eksplosif, dan kesetiaan pada materi aslinya.
Ini adalah tontonan wajib bagi mereka yang merindukan era di mana protagonis anime adalah agen rahasia berotot yang melawan tentara bayaran dan monster kuno, bukan sekadar remaja yang terjebak di dunia gim. David Production berhasil menghidupkan kembali legenda ARCAM untuk generasi baru, membuktikan bahwa pesan “Jangan ganggu masa lalu” masih relevan—dan seru—untuk disaksikan hari ini.
review anime lainnya …..