Review Anime Saekano: How to Raise a Boring Girlfriend. Awal 2026 ini, anime Saekano: How to Raise a Boring Girlfriend kembali jadi bahan nostalgia hangat di kalangan penggemar rom-com otaku. Meski musim kedua tamat pada 2017 dan film finale rilis 2019, seri ini hidup lagi berkat rewatch massal di platform streaming serta diskusi ulang komunitas pasca-anniversary light novel. Cerita tentang Tomoya Aki, otaku passionated yang merekrut Megumi Katou sebagai heroine utama game doujin-nya, sambil libatkan Eriri Spencer Sawamura dan Utaha Kasumigaoka, penuh meta humor tentang industri game indie dan romansa harem yang cerdas. Di tengah tren anime kreativitas dan waifu debate, Saekano terasa timeless dengan satirnya yang tajam, membuatnya layak direview ulang sebagai salah satu rom-com paling meta dan heartfelt era 2010-an. BERITA BOLA
Plot dan Tema Kreativitas yang Mendalam: Review Anime Saekano: How to Raise a Boring Girlfriend
Cerita berpusat pada Tomoya yang terinspirasi pertemuan takdir dengan Megumi—gadis “boring” tapi sempurna sebagai heroine ideal. Ia bentuk tim Blessing Software: Eriri sebagai illustrator tsundere, Utaha sebagai scenario writer cool, dan Megumi sebagai model utama. Musim pertama fokus pembentukan tim dan produksi route pertama game mereka, musim kedua naik ke konflik rival circle serta deadline Comiket, sementara film finale klimaks di Winter Comiket dengan drama romantis puncak. Plot satiris proses pembuatan galgame—dari brainstorming hingga crunch time—campur romansa gradual antar karakter. Tema utama tentang passion otaku, batas ideal vs realita, serta pertumbuhan Megumi dari “boring” jadi pusat cerita bikin narasi layered. Twist emosional seperti perpisahan tim dan confession tease buat seri ini lebih dari harem biasa, meski ending film beri closure memuaskan tapi bittersweet.
Karakter dan Dinamika Waifu yang Ikonik: Review Anime Saekano: How to Raise a Boring Girlfriend
Karakter jadi kekuatan utama: Tomoya relatable sebagai otaku obsessif tapi dedicated, Megumi “boring girlfriend” yang subtle charming dan berkembang paling signifikan, Eriri tsundere artist berbakat, Utaha senpai intelektual seksi. Pendukung seperti Michiru Hyodo dan Izumi Yashima tambah rivalitas circle yang lucu. Chemistry grup terasa natural—debat kreatif sering jadi meta commentary industri anime/game—dukung humor verbal tajam dan momen heartfelt. Voice acting brilian, terutama Kiyono Yasuno sebagai Megumi yang flat tapi ekspresif, bikin waifu war antar fans abadi: Megumi vs Eriri vs Utaha. Bahkan di 2026, dinamika ini tetap fresh, buktikan bagaimana karakter flawed tapi passionate bisa bikin penonton invested jangka panjang.
Animasi dan Produksi yang Memukau
Animasi khas A-1 Pictures (musim TV) dan CloverWorks (film) menonjol dengan desain karakter cantik, ekspresi exagerated lucu, serta efek visual novel style di scene game dev. Musim kedua dan film improve dengan detail background Comiket ramai, animasi emosi close-up, serta fanservice subtle yang dukung komedi. Soundtrack opening energik dan insert song pas, perkuat vibe passion kreatif. Meski di era animasi lebih advanced 2026, gaya sharp dan colorful ini timeless, terutama scene ikonik seperti hill sakura atau deadline panic. Produksi satiris elemen otaku culture tanpa murahan, buat seri ini standout di genre rom-com meta.
Kesimpulan
Saekano: How to Raise a Boring Girlfriend tetap jadi rom-com meta berkelas di 2026, dengan plot kreativitas mendalam, karakter waifu memorable, animasi solid, dan ending film yang cathartic. Rewatch massal buktikan daya tariknya bagi fans lama maupun baru, tawarkan cerita tentang mewujudkan mimpi otaku sambil jatuh cinta. Bagi shipper, debat heroine terbaik seru; bagi pemula, hiburan cerdas penuh tawa dan refleksi. Di tengah anime harem lain, seri ini ingatkan bahwa heroine “boring” bisa paling menarik. Tontonlah ulang dari musim pertama hingga film finale, dan rasakan mengapa Saekano terus dicinta bertahun-tahun kemudian.